Aplikasi Digital Si Pari Deteksi Masalah Administrasi

triLO.id -

Di balik meja kerjanya yang bersih dari tumpukan kertas, Yurnita B. Batjo menatap layar komputer dengan puas. Beberapa tahun lalu, lemari-lemari besi di kantornya nyaris tak sanggup lagi menampung dokumen. Kini, satu klik cukup untuk mengakses arsip bertahun-tahun. “Kami tak lagi sibuk mencari map yang entah di mana,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari kantor kecil di Dinas Perikanan Kabupaten Banggai, sebuah inovasi lahir: Si PARI. Bukan nama ikan, melainkan singkatan dari Sistem Informasi Administrasi Perkantoran Terintegrasi platform digital yang mengubah cara birokrasi bekerja di instansi perikanan itu.

Diluncurkan melalui laman [siparibanggai.co.id](http://siparibanggai.co.id), Si PARI bekerja seperti jaring elektronik: merapikan dokumen, menjadwalkan rapat, menyimpan arsip, hingga menyajikan informasi publik semua terintegrasi dalam satu sistem berbasis web.

“Semua layanan perkantoran kami kemas dalam satu aplikasi,” kata Yurnita, sang penggagas sistem, yang juga menjabat Sekretaris Dinas Perikanan. “Tujuannya efisiensi, transparansi, dan tentu saja akuntabilitas.”

Berbeda dengan sistem administrasi konvensional yang kerap karut-marut oleh dokumen fisik, Si PARI menawarkan sesuatu yang lebih sistematis. Ia menyajikan:Pengelolaan surat digital: surat masuk dan keluar tercatat otomatis, bebas salah meja.

Agenda rapat terjadwal: pejabat tak lagi lupa waktu. Arsip digital: dokumen lama mudah dicari, cukup ketik dan temukan.
Dashboard monitoring: kepala dinas dapat memantau kinerja harian staf secara real-time. Layanan informasi publik: warga bisa mengakses data perikanan tanpa harus datang ke kantor.

Ide ini bermula dari kegelisahan Yurnita melihat lambannya proses birokrasi yang masih mengandalkan kertas dan tangan manusia. “Padahal kita ini di sektor perikanan, yang mestinya lincah dan responsif seperti nelayan menghadapi ombak,” tuturnya.

Melalui koordinasi lintas bidang dan pelatihan internal, Yurnita membangun tim kecil pengembang sistem. Kini, Si PARI bukan sekadar alat bantu, tapi kultur kerja baru di lingkungan dinas.

Bagi Dinas Perikanan, Si PARI bukan ujung dari digitalisasi, melainkan titik awal. Sistem ini dirancang terbuka untuk pengembangan lebih lanjut—termasuk integrasi data produksi nelayan, distribusi hasil tangkap, hingga analitik kebijakan.

“Kalau laut punya sonar untuk mendeteksi ikan, kami punya Si PARI untuk mendeteksi masalah administrasi,” kata Yurnita, setengah bercanda.

Dengan Si PARI, Dinas Perikanan Kabupaten Banggai membuktikan bahwa birokrasi pun bisa berenang cepat di samudra digital. (*/dat)

Komentar