BANGGAI LAUT, Laut terlihat tenang di permukaan. Namun di baliknya, kedalaman yang gelap dan sunyi menyimpan ancaman yang tak semua orang berani hadapi.
Selama lebih dari 30 tahun, ruang sunyi itu menjadi “kantor” bagi Ibrahim Sumbui (55), warga Desa Toropot, Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut.
Saat kebanyakan orang terlelap, Ibrahim justru memulai pekerjaannya. Usai menunaikan sholat Isya, ia memanggul perlengkapan selam, menatap laut yang menghitam, lalu perlahan menghilang ke dalamnya.
Malam adalah waktunya bekerja di tengah dingin yang menggigit dan jarak pandang yang nyaris nol.
Dari Napas Manual ke Kompresor
Sejak muda, Ibrahim telah menjadikan laut sebagai tumpuan hidup. Ia memulai dari cara paling sederhana: menyelam manual, hanya mengandalkan napas dan keberanian.
Seiring waktu, ia beradaptasi. Penggunaan kompresor membuka akses ke kedalaman yang lebih ekstrem.
Kini, ia mampu menyelam hingga 20 meter, bahkan menembbus 50 meter.
Namun di kedalaman itu, tekanan air bukan lagi sekadar sensasi melainkan ancaman nyata bagi tubuh.
“Pendengaran saya tidak lagi seperti dulu. Kalau orang bicara agak jauh, saya sudah tidak dengar,” ujarnya.
Berburu di Tengah Ancaman
Meski kondisi fisiknya menurun, Ibrahim tetap bertahan. Ia berburu berbagai hasil laut—ikan, siput laut besar, lobster, teripang, hingga gurita.
“Pokoknya yang bisa dibeli dan halal, bukan mencuri,” katanya.
Namun, ia bukan satu-satunya pemburu di kedalaman. Ancaman kerap datang tanpa aba-aba.
Dikepung Hiu di Kegelapan
Di dasar laut, Ibrahim kerap berhadapan langsung dengan hiu—tiga hingga empat ekor dalam sekali penyelaman.
Tanpa ruang untuk panik, ia hanya mengandalkan cahaya senter di kepalanya.
“Hampir setiap kali menyelam, saya bertemu hiu. Saya tidak panik, cuma arahkan cahaya senter, mereka pergi,” tuturnya.
Dalam suhu dingin yang menembus tulang, ia bisa bertahan dua hingga tiga jam di bawah air. Baju selam tebal hanya memberi perlindungan terbatas.
Pulang Membawa Harapan
Saat sebagian orang baru memulai hari, Ibrahim justru kembali dari kedalaman kadang pukul 04.00 dini hari, kadang saat matahari mulai terbit.
Dari gelap yang ia selami, ia membawa hasil tangkapan sebagai sumber penghidupan.
Rata-rata Rp500 ribu per malam, bahkan bisa menembus Rp1 juta saat cuaca bersahabat.
“Kalau rejeki bagus, bisa sampai Rp1 juta,” ujarnya.
Dari profesi ini, ia menghidupi keluarga sekaligus menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus SMA.
Hanya Mengandalkan Keberanian
Pekerjaan ini tak menawarkan kepastian. Tak ada jaminan keselamatan, tak ada kepastian hasil.
Yang ada hanya keberanian untuk kembali menyelam malam demi malam.
Di usia 55 tahun, Ibrahim masih berdiri di tepi laut yang sama.
Laut yang dingin. Laut yang dalam. Laut yang berbahaya.
Namun juga laut yang memberinya kehidupan.
Dan setiap kali ia menyelam ke dalam gelap, satu hal selalu ia bawa: harapan yang harus diperjuangkan, bahkan dari tempat paling sunyi. (El/Ap)

Komentar