Harga TBS Sawit Sulteng Naik Rp3.376,73

triLO.id -

PALU, Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit pekebun mitra plasma di Sulawesi Tengah periode September 2026 ditetapkan mencapai Rp3.376,73 per kilogram untuk tanaman umur 10–20 tahun. Angka ini naik sekitar Rp32–Rp39 per kilogram dibandingkan harga periode Agustus.

Penetapan tersebut disepakati dalam Rapat Tim Penetapan Harga TBS di Aula UPT Proteksi Tanaman Perkebunan Disbunnak Provinsi Sulteng, Selasa (15/9/2026).

Keputusan itu dituangkan melalui Surat Nomor 500.8/7500/B.SPHP/Disbunnak dan Berita Acara Nomor 500.8/7501/B.SPHP/Disbunnak. Harga tersebut berlaku selama September 2026 dan menjadi acuan bagi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) serta kelompok tani mitra plasma.

Plh Sekretaris Disbunnak Sulteng Dandy Alfita, S.Pt., MP, menegaskan seluruh pihak terkait wajib memedomani hasil penetapan tersebut.

“Penetapan harga ini berlaku efektif selama sebulan penuh pada September 2026 agar dipedomani dan ditaati oleh seluruh pihak terkait, baik Pabrik Kelapa Sawit (PKS) maupun kelompok tani mitra,” tegas Dandy.

Kepala Bidang Sarana dan Pengelolaan Hasil Perkebunan Disbunnak Sulteng Hasniwati mengatakan penetapan harga TBS dilakukan rutin setiap bulan dengan melibatkan perwakilan petani plasma dan perusahaan PKS.

Menurut dia, harga ditetapkan berdasarkan data penjualan Crude Palm Oil (CPO) dan kernel yang disampaikan perusahaan perkebunan.

“Proses rapat penetapan harga ini kita lakukan secara rutin satu bulan sekali bersama perwakilan petani plasma dan perusahaan PKS. Data penjualan dikirim ke pusat, dan alhamdulillah seluruh pihak hadir, sepakat, serta menyetujui hasilnya sebesar Rp3.376,73 per kilogram untuk umur tanaman optimal,” ujar Hasniwati.

Berdasarkan berita acara, perhitungan harga September mengacu pada rata-rata harga CPO lokal dan ekspor sebesar Rp14.992,23 per kilogram, rata-rata harga kernel Rp11.602,31 per kilogram, serta indeks faktor “K” sebesar 86,79 persen. Kedua harga komoditas tersebut belum termasuk PPN.

Kenaikan harga TBS ini mencerminkan pergerakan pasar minyak sawit mentah global sekaligus memberi ruang bagi pekebun plasma mempertahankan pendapatan di tengah dinamika harga komoditas.(*)

Komentar