Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Banggai tengah melakukan pendataan intensif di tingkat penggilingan padi untuk memastikan keakuratan data cadangan pangan daerah. Langkah ini diambil guna melacak arus distribusi beras, baik untuk konsumsi lokal maupun yang keluar ke wilayah lain.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Banggai, Hendra Cakra, menjelaskan bahwa potensi produksi beras di wilayahnya mengacu pada data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHPT) yang mencatat luas lahan pertanian mencapai 25.615 hektar. Hasil panen gabah dari lahan tersebut kemudian dikonversi menjadi beras untuk menghitung ketersediaan pangan daerah.
“Proses agronomis budidaya ada di TPHPT dengan luas lahan sekitar 25.615 hektar. Setelah dikonversi ke beras, data tersebut kita padukan dengan data stok di Bulog dan tingkat petani untuk menghitung total ketersediaan,” ujar Hendra Cakra kepada Luwuk Post, Jumat (11/9/2026).
Hendra mengungkapkan, tantangan utama dalam pemetaan stok saat ini berada pada pendataan distribusi beras di tingkat penggilingan. Pasalnya, sebagian hasil gilingan didistribusikan ke luar daerah seperti Ampana hingga Kepulauan Maluku.
“Data yang keluar dari gilingan ke luar daerah ini yang agak rumit dan sedang kita godok mekanismenya. Kita perlu tahu persis berapa total produksi, berapa yang dikonsumsi penduduk Banggai, dan berapa yang keluar. Sisa dari konsumsi dan distribusi itulah yang menjadi cadangan pangan pemerintah daerah,” terangnya.
Selain pemetaan cadangan pangan, Dinas Ketahanan Pangan terus menjalankan program rutin Gerakan Pangan Murah untuk menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. Pemkab Banggai juga menyiagakan cadangan pangan siap cepat untuk mengantisipasi kondisi darurat (force majeure) seperti bencana banjir atau kekeringan.(ap)

Komentar