Kenaikan harga sejumlah obat-obatan mulai dirasakan masyarakat di Kota Luwuk. Sejak 1 Juni 2026, sejumlah apotek menyesuaikan harga jual menyusul kebijakan distributor yang menaikkan harga berbagai produk farmasi, mulai dari obat bebas hingga obat herbal.
Pantauan triLO di sejumlah apotek, di antaranya Apotek Alkaromah di Jalan Ahmad Yani, Apotek 2R di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bungin Timur, serta Apotek Gemilang di kawasan Kilo 2, menunjukkan adanya penyesuaian harga pada beberapa produk yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat.
Apoteker Elsi mengatakan kenaikan harga obat merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama pada pertengahan tahun. Tahun ini, penyesuaian harga mulai diberlakukan sejak awal Juni.
“Kalau kenaikan harga obat memang hampir setiap tahun terjadi, terutama pada pertengahan tahun. Tahun ini mulai berlaku sejak 1 Juni,” ujarnya, Rabu (3/6).
Menurut Elsi, beberapa produk yang mengalami kenaikan harga antara lain Promag Herbal, Mixagrip Flu dan Batuk, serta Mextril. Sementara itu, sejumlah obat dasar seperti paracetamol masih bertahan pada harga normal.
Ia menjelaskan, distributor biasanya memberikan pemberitahuan kepada apotek dua minggu hingga satu bulan sebelum harga baru diberlakukan. Langkah tersebut memungkinkan apotek melakukan penyesuaian stok untuk mengantisipasi lonjakan harga.
“Biasanya ada pemberitahuan lebih dulu sehingga kami bisa menyesuaikan pemesanan sebelum harga baru berlaku,” katanya.
Elsi menyebut rata-rata kenaikan harga mencapai sekitar lima persen, meski besarannya berbeda pada setiap produk. Kenaikan itu diduga dipicu meningkatnya harga bahan baku, biaya distribusi, hingga faktor perpajakan yang memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.
“Kalau harga dari distributor naik, otomatis harga jual ke konsumen juga ikut naik. Distributor tentu memiliki pertimbangan bisnis dan tidak mungkin menjual di bawah biaya,” jelasnya.
Kenaikan harga tersebut mulai berdampak pada perilaku konsumen. Sebagian pelanggan tetap membeli obat yang dibutuhkan, namun tidak sedikit yang terkejut saat mengetahui harga baru dan memilih menunda pembelian.
Meski demikian, Elsi memastikan ketersediaan obat di apotek masih dalam kondisi aman dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan, harga obat yang sudah mengalami kenaikan umumnya tidak kembali turun. Namun, distributor sesekali memberikan program promosi atau potongan harga untuk produk tertentu, terutama pembelian dalam jumlah besar.
Hal senada disampaikan Apoteker Kiki. Menurutnya, kenaikan harga memang terjadi pada beberapa jenis obat, namun masih dalam kategori wajar.
“Memang ada beberapa yang naik, tetapi tidak terlalu besar. Rata-rata sekitar seribu hingga dua ribu rupiah, tergantung merek obatnya,” ujarnya.
Kiki menilai perubahan harga kemungkinan berasal dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau pemasok yang melakukan penyesuaian biaya produksi dan bahan baku. Meski demikian, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap tingkat pembelian masyarakat.
“Sejauh ini stok tetap aman dan aktivitas pembelian masih berjalan normal,” katanya.
Pernyataan serupa disampaikan Elina, pekerja salah satu apotek di Jalan Imam Bonjol, Kilo 2. Ia mencontohkan produk Mixagrip yang sebelumnya dijual sekitar Rp3.000 per sachet kini telah mencapai sekitar Rp4.000.
“Kalau dilihat memang naik. Ada yang naik seribu rupiah, ada juga sekitar lima ratus rupiah. Kelihatannya kecil, tetapi tetap terasa bagi sebagian pembeli,” ujarnya.
Meski harga sejumlah obat mengalami kenaikan, aktivitas transaksi di apotek-apotek di Kota Luwuk masih berlangsung normal. Para apoteker berharap masyarakat tetap membeli obat sesuai kebutuhan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Di sisi lain, pengelola apotek berharap stabilitas harga dapat terjaga sehingga akses masyarakat terhadap kebutuhan kesehatan tetap terjamin dengan harga yang terjangkau. (MG01/MG02)

Komentar