Fenomena ratusan warga Kabupaten Banggai yang berbondong-bondong mengikuti terapi alternatif penyakit belakangan ini mendadak viral di tengah masyarakat. Kehadiran pengobatan non-medis tersebut menyedot perhatian publik lantaran dinilai mampu menarik minat warga dalam jumlah besar secara singkat.
Menanggapi fenomena tersebut, Direktur RSUD Banggai, dr. Budiyanto Uda’a, Sp.KFR., M.Ked.Klin., memberikan tanggapan dingin. Saat ditemui Luwuk Post pasca kegiatan Seminar Kesehatan pada Sabtu (5/9/2026), dr. Budiyanto menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin ambil pusing terkait maraknya pengobatan alternatif tersebut.
Menurut dokter yang juga menjabat Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banggai ini, bahwa dunia medis profesional beroperasi di atas koridor hukum dan ilmu pengetahuan yang jelas.
“Kira-kira tidak perlu dibahas lagi, kalau kesehatan kan punya jalur sendiri secara ilmiah. Kita tidak mau menanggapi itu. Itu kan kepercayaan orang masing-masing. Kalau kita jelas ada dasar ilmiahnya,” tegas dr. Budiyanto kepada Luwuk Post.
Di sisi lain, keviralan pengobatan alternatif ini diwarnai isu krusial di lapangan. Beredar kabar bahwa terdapat pasien dengan kategori sakit berat dan gawat yang sedianya diantar menggunakan mobil ambulans untuk dirujuk ke RSUD Banggai, justru batal ke rumah sakit. Ambulans tersebut disinyalir memutar arah dan memboyong pasien menuju tempat terapi alternatif.
Dikonfirmasi mengenai dugaan pembelokan fungsi dan rujukan mobil ambulans tersebut, Direktur RSUD Banggai mengaku belum menerima laporan resmi mengenai insiden itu.
Ia menekankan bahwa operasional serta pengawasan armada ambulans di wilayah daerah berada di bawah kewenangan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banggai.
“Nah, kalau itu saya belum tahu. Nanti tanya ke Dinkes kenapa ambulansnya belok ke pengobatan alternatif bukan ke fasilitas kesehatan,” pungkas dr. Budiyanto.
Hingga berita ini diturunkan, fenomena tingginya animo masyarakat terhadap terapi alternatif ini masih menjadi perbincangan hangat.(ap/mm)

Komentar