Husin Ali : ‎Guru Wajib Belajar Mengaji, Jangan Hanya Murid yang Diajar Ngaji

triLO.id -

‎GORONTALO – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Gorontalo, Dr. Husin Ali, S.Pd., M.AP, menegaskan bahwa program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an tidak hanya ditujukan kepada peserta didik, tetapi juga harus menyentuh para guru. Menurutnya, guru harus memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik agar dapat menjadi teladan bagi siswa di sekolah.

‎Penegasan tersebut disampaikan Husin Ali saat membahas penguatan kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo dengan Yayasan Al Yasiir Gorontalo, Kamis (30/7/2026).
‎Dalam arahannya, Husin Ali meminta Yayasan Al Yasiir melanjutkan kerja sama di lima Sekolah Dasar (SD) yang telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dan melaksanakan program pembinaan Al-Qur’an. Ia juga mendorong yayasan memperluas kemitraan ke sekolah-sekolah lain sesuai kemampuan dan ketersediaan tenaga pengajar.

‎Tidak hanya di tingkat SD, Husin Ali juga berharap program tersebut dapat dikembangkan hingga jenjang SMP. Menurutnya, sertifikat mampu membaca Al-Qur’an sebagai syarat masuk SMP tidak boleh menjadi tujuan akhir. Justru tantangan bagi satuan pendidikan SMP adalah memastikan pembelajaran Al-Qur’an terus berlanjut melalui kebijakan sekolah yang berkesinambungan.
‎Sebagai bentuk dukungan, Husin Ali menyatakan akan menyampaikan instruksi kepada seluruh kepala sekolah melalui grup WhatsApp agar memberikan dukungan penuh terhadap program Yayasan Al Yasiir. Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo juga akan menerbitkan rekomendasi tertulis guna memperkuat pelaksanaan kerja sama di sekolah-sekolah.
‎”Saya akan menyampaikan instruksi kepada seluruh kepala sekolah. Jika Yayasan Al Yasiir menawarkan kerja sama, agar diterima dan didukung dengan baik,” ujar Husin.
‎Menurutnya, inovasi jemput bola yang dilakukan Yayasan Al Yasiir sangat membantu pemerintah dalam menyukseskan program Wali Kota Gorontalo, Hi. Adhan Dambea, untuk memberantas buta huruf Al-Qur’an. Terlebih, siswa kelas VI diwajibkan memiliki sertifikat mampu membaca Al-Qur’an sebagai salah satu syarat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

‎Namun demikian, Husin Ali menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut tidak akan optimal apabila hanya siswa yang dibina, sementara guru belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik.
‎”Jangan hanya murid yang diajar mengaji. Guru juga wajib belajar mengaji karena mereka adalah teladan bagi peserta didik. Bagaimana mungkin guru mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an jika kemampuan membacanya belum baik. Karena itu, kami meminta Yayasan Al Yasiir juga memberikan pembinaan kepada para guru di sekolah-sekolah mitra,” tegasnya.
‎Menurut Husin, peningkatan kompetensi guru dalam membaca dan memahami Al-Qur’an akan memperkuat pembinaan karakter serta pendidikan keagamaan di lingkungan sekolah.
‎Untuk memastikan program berjalan optimal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo akan melakukan pemantauan dan evaluasi langsung terhadap pelaksanaan program di SDN 70 Kota Tengah, SDN 96 Kota Utara, SDN 97 Kota Utara, SDN 19 Dungingi, dan SDN 21 Dungingi. Evaluasi tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program, mengidentifikasi kendala di lapangan, sekaligus memastikan target pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dapat tercapai secara berkelanjutan.
‎Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan dan Keagamaan Yayasan Al Yasiir, Sukri Gausu, SE., ME, menyambut baik dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo dalam memperkuat kerja sama dengan satuan pendidikan.

‎”Insyaallah kami akan memberikan yang terbaik bagi peserta didik, khususnya di Sekolah Dasar Negeri se-Kota Gorontalo, dalam mendukung program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an. Selain pembelajaran baca tulis Al-Qur’an, kami juga akan memperkuat pembinaan karakter melalui pembelajaran klasikal yang memuat materi hadis, adab, akidah, dan fiqih ibadah, sehingga pendidikan Al-Qur’an tidak hanya melahirkan siswa yang mampu membaca, tetapi juga memahami serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Sukri. (roy)

Komentar