Penyakit kronis dan degeneratif masih menjadi beban utama pelayanan kesehatan di RSUD Luwuk Banggai. Sepanjang April hingga Juni 2026, nyeri punggung bawah (low back pain) dan stroke tercatat sebagai dua penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi, didominasi pasien lanjut usia yang membutuhkan perawatan dan kontrol medis berkelanjutan.
Data rekam medis RSUD Luwuk menunjukkan, sebanyak 581 kasus nyeri punggung bawah ditangani melalui layanan rawat jalan selama Triwulan II 2026. Jumlah itu menempatkan keluhan tersebut sebagai kasus terbanyak yang datang ke rumah sakit.
Di urutan berikutnya, gejala sisa stroke atau infark serebral mencapai 456 kasus.
“Selain nyeri punggung bawah, gejala sisa stroke atau infark serebral juga sangat tinggi, yakni mencapai 456 kasus,” kata Sub Koordinator Pelayanan Medik RSUD Luwuk Banggai, Treys Rianinda Yusuf, S.Si., kepada triLO, Jumat (12/6).

Sementara pada layanan rawat inap, kasus terbanyak berasal dari komplikasi persalinan, khususnya inersia uteri atau lemahnya kontraksi rahim. Kasus tersebut diikuti stroke iskemik, diare, dan gagal ginjal kronis.
Meski masih mendominasi, jumlah kunjungan pasien dengan keluhan nyeri punggung menunjukkan kecenderungan menurun dalam tiga bulan terakhir. Pada April tercatat 250 kasus, turun menjadi 223 kasus pada Mei, dan kembali berkurang menjadi 108 kasus hingga pertengahan Juni.
Menurut Treys, kelompok usia di atas 50 tahun menjadi pasien yang paling banyak memanfaatkan layanan kesehatan rumah sakit. Kondisi itu sejalan dengan tingginya prevalensi penyakit degeneratif yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.
“Kelompok lansia memang mendominasi karena faktor penyakit kronis yang memerlukan penanganan rutin, seperti penyakit jantung dan gagal ginjal,” ujarnya.
Berbeda dengan kelompok lansia, pasien usia produktif lebih banyak datang dengan keluhan gangguan pencernaan, tuberkulosis paru, hingga gangguan psikologis seperti panic disorder. Adapun pada kelompok usia reproduktif, komplikasi kehamilan masih menjadi perhatian utama pelayanan kesehatan.
Tingginya kasus penyakit kronis tersebut dinilai berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat. Konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak, kebiasaan merokok, serta tingkat stres yang tinggi menjadi faktor yang memperbesar risiko munculnya berbagai penyakit degeneratif.
Khusus nyeri punggung bawah, kondisi itu diduga dipicu oleh kebiasaan bekerja dengan posisi tubuh yang tidak ergonomis serta aktivitas mengangkat beban berat secara berulang.
Merespons tren tersebut, RSUD Luwuk terus memperkuat layanan rehabilitasi medik dan meningkatkan kesiapan penanganan persalinan berisiko tinggi guna menekan angka kematian maupun kecacatan.
Pihak rumah sakit juga mengimbau masyarakat agar lebih mengedepankan langkah pencegahan melalui pemeriksaan kesehatan berkala, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga. (MG01/MG02)

Komentar