Siang itu, aula Dinas Perikanan Kabupaten Banggai tak hanya menjadi tempat seremoni pelepasan seorang pejabat. Ruangan itu berubah menjadi ruang kenangan, tempat puluhan tahun pengabdian diputar kembali dalam ingatan.
Di antara ucapan selamat, pelukan, dan jabat tangan yang tak putus-putus, Ir. Ferlin Y.T. Monggesang, M.Si. berdiri tenang. Sesekali ia tersenyum, sesekali matanya tampak berkaca-kaca. Hampir tiga dekade mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) akhirnya bermuara pada satu kata: purnatugas.
Bagi sebagian orang, pensiun adalah garis akhir. Namun bagi Ferlin, hari itu justru terasa seperti membuka lembaran baru.
Perjalanan panjangnya sebagai ASN resmi berakhir pada 31 Juli 2026, setelah 29 tahun lima bulan mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya bagi Pemerintah Kabupaten Banggai.
Ada kisah yang membuat momen itu terasa lebih dalam.
Jejak langkah Ferlin ternyata bukan hanya miliknya. Puluhan tahun silam, sang ayah juga menapaki jalan yang sama. Sama-sama memilih menjadi abdi negara. Sama-sama mengabdi di Dinas Perikanan. Bahkan, keduanya mengakhiri karier pada jabatan yang sama: Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banggai.
Seolah waktu sedang menuliskan kisah yang sama untuk dua generasi.
Bukan sekadar kebetulan, tetapi sebuah warisan nilai yang hidup dari seorang ayah kepada anaknya—tentang integritas, kesetiaan, dan tanggung jawab kepada negara.
Di hadapan para pejabat daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah, serta keluarga besar Dinas Perikanan, Bupati Banggai Ir. H. Amirudin, S.P., M.P., M.M., AIFO. menyampaikan penghargaan atas perjalanan panjang pengabdian itu.
“Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Banggai, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas dedikasi serta kerja keras Ferlin Y.T. Monggesang selama memimpin dan mengabdi di Kabupaten Banggai,” ujar Amirudin.
Ucapan itu tidak terdengar seperti pidato seremonial. Ia lebih menyerupai salam penghormatan kepada seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melayani masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Ferlin dikenal sebagai birokrat yang tenang. Ia bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di depan sorotan. Namun, di balik sikapnya yang bersahaja, tersimpan konsistensi yang membuatnya dipercaya memegang berbagai jabatan strategis.
Bagi rekan-rekannya, Ferlin adalah sosok yang bekerja tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan jejak.
Jejak itu kini menjadi pelajaran bagi generasi ASN yang lebih muda: bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa sering nama disebut, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.
Ketika seragam ASN dilepas, banyak orang mengira ruang pengabdian Ferlin ikut selesai.
Ternyata tidak.
Beberapa pekan sebelum memasuki masa pensiun, ia justru menerima amanah baru sebagai Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Kabupaten Banggai.
Tak berhenti di situ, ia juga dipercaya memimpin Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Banggai, menjadi Ketua Yayasan Pengurusan Sekolah-Sekolah Kristen Gereja Kristen Luwuk Banggai (YPSK GKLB), menjabat Wakil Ketua Perkumpulan Pembangunan Saluan Luwuk, serta aktif di berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan.
Jika selama ini ruang kerjanya berada di balik meja birokrasi, kini ruang pengabdiannya berpindah ke tengah masyarakat.
Lewat BAMAG, ia ingin terus merawat kerukunan antarumat beragama yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Kabupaten Banggai.
Melalui GAMKI, ia berharap lahir semakin banyak anak muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap daerahnya.
Sementara di YPSK GKLB, Ferlin membawa harapan baru bagi dunia pendidikan. Baginya, membangun sekolah bukan hanya soal gedung dan kurikulum, tetapi juga membentuk karakter generasi yang kelak memimpin daerah ini.
Pensiun sering kali dipahami sebagai berhenti.
Namun, Ferlin memilih memaknainya secara berbeda.
Ia tidak lagi mengenakan seragam khaki setiap pagi. Tidak lagi menandatangani surat-surat kedinasan. Tidak lagi memimpin rapat birokrasi.
Tetapi semangat untuk melayani tetap hidup.
Mungkin benar, jabatan memiliki batas waktu.
Namun pengabdian tidak pernah mengenal masa pensiun.
Sore itu, sebelum meninggalkan lokasi acara, Ferlin menerima sebuah cenderamata berupa lukisan dirinya bersama para nelayan. Ia menatap lukisan itu cukup lama, lalu tersenyum.
Barangkali, di balik senyum itu tersimpan kesadaran sederhana bahwa perjalanan hidup bukan ditentukan oleh jabatan terakhir yang pernah disandang, melainkan oleh jejak yang ditinggalkan.
Dan bagi Ferlin Y.T. Monggesang, jejak itu tampaknya belum selesai ditorehkan.
Sebab, setelah pintu birokrasi tertutup perlahan, pintu pengabdian kepada masyarakat justru terbuka semakin lebar. (*/Ap)

Komentar