Perekonomian Kabupaten Banggai menunjukkan akselerasi dalam tiga tahun terakhir, namun di saat yang sama mengalami pergeseran struktur sektor yang cukup signifikan.
Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah mencatat, pertumbuhan ekonomi meningkat dari 2,42 persen pada 2023 menjadi 3,63 persen pada 2024, dan kembali menguat ke 3,78 persen pada 2025. Laju ini menandai tren pemulihan yang konsisten, meski masih dalam level moderat.
Struktur ekonomi Banggai kini ditopang tiga sektor utama, yakni industri pengolahan (27,96 persen), pertambangan dan penggalian (22,95 persen), serta pertanian (22,49 persen). Ketiganya tetap menjadi tulang punggung PDRB, namun arah kontribusinya mulai berubah.
Sektor pertanian dan pertambangan menunjukkan penguatan bertahap. Kontribusi pertanian meningkat dari 21,61 persen pada 2023 menjadi 22,49 persen pada 2025. Sementara sektor pertambangan melonjak dari 19,01 persen menjadi 22,95 persen dalam periode yang sama.
Sebaliknya, sektor industri pengolahan yang sebelumnya dominan justru melemah tajam. Kontribusinya turun dari 32,17 persen pada 2023 menjadi 27,96 persen pada 2025, menandai tergerusnya peran sektor ini dalam struktur ekonomi daerah.
Penguatan sektor pertanian didorong kenaikan produksi komoditas. Pada 2025, sektor ini tumbuh 3,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi padi melonjak signifikan hingga 26,82 persen, seiring program cetak sawah yang mulai menunjukkan hasil.
Namun, kinerja tidak merata. Komoditas perkebunan unggulan seperti kelapa dan kelapa sawit hanya tumbuh terbatas. Produksi kelapa naik tipis dari 53.421,66 ton menjadi 54.492,52 ton, sementara kelapa sawit stagnan.
Di sektor pertambangan, pertumbuhan justru paling agresif. Pada 2025, sektor ini melesat 12,71 persen dibandingkan 2024, menjadi yang tertinggi di antara sektor lainnya.
Lonjakan ini dipicu meningkatnya aktivitas pengangkutan nikel ore melalui Pelabuhan Pagimana dan Bunta. Volume muatan tercatat naik hingga 64 persen, mencerminkan ekspansi produksi tambang nikel di Banggai.
Sementara itu, subsektor migas hanya tumbuh marginal sebesar 0,44 persen. Kinerja yang relatif stagnan ini membatasi laju ekspansi sektor pertambangan secara keseluruhan.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan justru mengalami kontraksi dalam. Pada 2025, sektor ini tertekan 6,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut berkaitan erat dengan merosotnya ekspor LNG yang turun sekitar 18 hingga 20 persen. Melemahnya produksi migas sebagai komoditas utama menjadi faktor dominan yang menyeret kinerja industri pengolahan.
Perkembangan ini menegaskan terjadinya pergeseran struktur ekonomi Banggai—dari dominasi industri pengolahan menuju penguatan sektor berbasis sumber daya alam, terutama pertambangan dan pertanian. (red)

Komentar