Luwuk Darurat HIV

Seks Bebas Jadi Pemicu Utama Ledakan Kasus

triLO.id -

Kabupaten Banggai berada dalam ancaman serius penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV). Data terbaru Dinas Kesehatan Banggai periode 2019-2025 menunjukkan Kecamatan Luwuk menjadi episentrum penularan dengan angka tertinggi, sekaligus menegaskan status darurat penyebaran HIV di wilayah perkotaan.

Kecamatan Luwuk mencatat 86 kasus, tertinggi di seluruh wilayah Banggai. Angka itu jauh melampaui Luwuk Selatan yang berada di posisi kedua dengan 50 kasus, serta Toili di urutan ketiga dengan 32 kasus. (Selengkapnya lihat Info Grafis).

Wilayah lain yang juga menunjukkan angka mengkhawatirkan yakni Pagimana 25 kasus, Luwuk Utara 23 kasus, Lamala 20 kasus, Luwuk Timur 17 kasus, Bualemo 15 kasus, serta Moilong dan Bunta masing-masing 13 kasus. Sementara kecamatan lainnya tercatat bervariasi antara 2 hingga 11 kasus.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Banggai, Ramli Tongko, menegaskan bahwa tingginya angka tersebut harus dilihat sebagai alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, selama ini HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es—banyak kasus tersembunyi dan tidak terungkap ke permukaan.

“Di balik data itu sebenarnya ada keuntungannya karena ini barang tersembunyi. Mana ada orang yang mau mengaku. Kalau datanya riil, kita bisa tahu dan kita bisa dampingi serta tangani,” ujar Ramli Tongko kepada triLO, Selasa (28/4).

Ia menegaskan, keterbukaan data menjadi langkah penting agar pemerintah dapat melakukan intervensi secara tepat sasaran. Pemkab Banggai melalui tim khusus terus bergerak melakukan sosialisasi, edukasi, dan pendampingan kepada masyarakat, baik bagi pengidap HIV maupun penderita AIDS.

Menurut Ramli, tingginya kasus di wilayah perkotaan seperti Luwuk tidak lepas dari tingginya mobilitas warga, interaksi sosial yang padat, serta perilaku berisiko seperti hubungan seksual bebas dan menyimpang yang menjadi salah satu pemicu utama penularan.

“Ya, namanya kota, salah satunya itu. Ada interaksi banyak dan potensi hubungan terlarang atau menyimpang, termasuk seks bebas. Ini yang harus kita waspadai bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pencegahan HIV membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh agama, hingga komunitas sosial agar edukasi bahaya HIV dapat menjangkau semua lapisan.

Untuk langkah teknis di lapangan, Ramli menyebut tim kesehatan di bawah koordinasi Ramfia Lamiri terus aktif melakukan edukasi ke sekolah-sekolah dan komunitas masyarakat guna menekan laju penularan sejak dini.

“Beliau selama ini jalan terus ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas untuk edukasi. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat sendiri,” katanya.

Berdasarkan grafik “Distribusi Kasus HIV Berdasarkan Kecamatan Tahun 2019-2025”, kecamatan dengan angka terendah tercatat di Lobu sebanyak 2 kasus dan Balantak Utara 5 kasus. Namun pemerintah menegaskan, sekecil apa pun angka tersebut tetap harus menjadi perhatian serius karena HIV bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga ancaman sosial yang dapat merusak masa depan generasi daerah.(tim)

Komentar